Rosidin guru matematika yang lolos seleksi kepala sekolah (Foto: Malika)
Rosidin, atau sering dipanggil dengan Eros adalah salah satu guru Matematika di SMP Negeri 2 Kramat. Beliau lahir di kota Tegal, 3 November 1969. Beliau pertama kali mengajar di SMP dan SMA Agus Salim, Semarang. Anak dari Karmadi dan Siti Sanijah ini memiliki sifat yang ulet, pekerja keras, bijaksana, dan pantang menyerah. Eros adalah anak pertama dari 4 bersaudara.
Pada satu tahun yang lalu, tepatnya bulan April 2018 beliau melaksanakan seleksi calon Kepala Sekolah yang diadakan oleh Dinas DIKBUD dan yang mengadakan seleksi akademik, potensi kepemimpinan serta Diklat adalah LPPKS. Karena semangat dan mentalnya yang tinggi, ia mendaftarkan diri sebagai calon Kepala Sekolah. Beliau mempunyai motivasi agar bisa masuk pada posisi strategis dalam peningkatan kualitas pendidikan serta bisa memberi manfaat yang lebih besar dalam dunia pendidikan. Persiapan yang dilakukan oleh Eros untuk menjadi Kepala Sekolah antara lain :
1.
Persiapan mental untuk menjadi seorang pemimpin.
2.
Mengumpulkan bukti fisik semua kegiatan
yang berkaitan dengan pendidikan,
organisasi, dan kepemimpinan.
3. Mempelajari teori-teori pendidikan, inovasi pendidikan, kepemimpinan, studi kasus, dan lain-lain yang barkaitan dengan pendidikan.
Beliau juga menyampaikan beberapa proses untuk menjadi Kepala Sekolah, yaitu;
1.
Seleksi administrasi dilanjutkan seleksi akademik dan potensi kepemimpinan.
2. Diklat manejerial dan kepemimpinan.
3. Praktek manejerial dan kepemimpinan di dua sekolah.
4.
Presentasi laporan hasil praktek di dua sekolah.
5.
Pengumuman penilaian magang CKS (calon Kepala Sekolah)
6. CKS dianggap layak sebagai Kepala Sekolah jika memperoleh nilai minimal memuaskan (B) jika nilainya kurang dari (B) maka, orang tersebut dianggap belum layak sebagai Kepala Sekolah.
Tak lupa beliau juga menyampaikan tips-tips untuk menuju sukses lulus calon Kepala Sekolah salah satunya adalah memiliki keinginan dan kemauan yang kuat, tekun dan pantang menyerah, selalu berdo’a, dan selalu belajar dari berbagai macam sumber. (Adinda Tria Monika/VII A)
SMP Negeri 2 Kramat mempunyai
perpustakaan yang mendukung literasi. Jadwal berkunjung ke perpustakaan merupakan
salah satu contoh program gerakan literasi yang dilaksanakan sekolah. Setiap
siswa bisa mengunjungi perpustakaan. Bukan hanya berkunjung tetapi siswa
membaca dan meminjam buku.
Sayangnya
perpustakaan sekolah belum menggunakan sistem daring dalam literasi yang
berfungsi untuk menjelajah atau mencari informasi yang lebih luas lagi.
Seharusnya
sekolah mengusahakan sistem daring sebagai pendukung literasi berbasis digital.
Dengan cara menambahkan komputer dan jaringan internet.
Dhui
Fitri Agustina
Kelas
8A
Untuk Dhui Fitri Agustina,
Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas kritik dan sarannya. Kami dari tim Jurnalistik Cemerlang, akan menyampaikan kepada kepala sekolah terkait dengan kritik dan saran yang Anda berikan.
Teknik membaca memindai ( Scanning ) adalah teknik menemukan informasi dari teknik menemukan informasi dari bacaan secara cepat, dengan cara menyapu halaman demi halaman secara merata, kemudian ketika sampai pada bagian yang dibutuhkan, gerakan mata demi kata.
Teknik membaca ini berguna untuk mencari
beberapa informasi secepat mungkin. Biasanya kita membaca kata per kata dari
setiap kalimat yang dibacanya. Dengan berlatih teknik membaca untuk memahami
teks bacaan dengan cara yang lebih cepat.
2.Langkah-langkah
Scanning
* Perhatikan penggunaan
urutan seperti angka, huruf, langkah, pertama, kedua, atau selanjutnya
* Carilah
kata yang dicetak tebal, miring atau yang dicetak berbeda dengan teks lainnya.
* Terkadang
penulis menempatkan kata kunci diparagraf
Langkah
atau proses scanning yang lain yakini:
Scanning
dilakukan dengan cara:
(1) Menggerakkan
mata seperti anak panah langsung meluncur ke bawah menemukan informasi yang
telah ditetapkan
(2) Setelah
ditemukan kecepatan diperlambat untuk menemukan
keterangan lengkap dari informasi yang dicari, dan
(3) Pembaca
dituntut memiliki pemahaman yang baik berkaitan dengan karakteristik yang
dibaca (misalnya, kamus disusun secara alfabetis dan ada keyword di setiap
halaman bagian kanan atas, ensiklopedi disusun secara alfabetis dengan
pembalikan untuk istilah yang terdiri dari dua kata, dan sebagainya).
B.
Membaca Layap ( Skimming )
1. Pengertian
Membaca layap ( Skimming ) adalah membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum atau bagian suatu bacaan ( Farida Rahim, 2005 ). Membaca layap dibutuhkan untuk mengetahui sudut pandang penulis tentang sesuatu, menemukan pola organisasi paragraf, dan menemukan gagasan umum dengan cepat ( Mikulecky dan Jefferies dalam Farida Rahim, 2005 ).
2.
Langkah-langkah Skimming
* Baca judul, sub judul
dan sub heading untuk mencari tahu apa yang dibicarakan teks tersebut.
* Perhatikan ilustrasi ( gambar
atau foto ) agar anda mendapatkan informasi lebih jauh tentang topik tersebut
* Baca awal dan akhir
kalimat setiap paragraf
* Jangan
membaca kata per kata. Biarkan mata anda melakukan skimming kulit luar sebuah
teks. Carilah kata kunci atau keyword-nya
* Lanjutkan dengan berfikir mengenai arti teks tersebut
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, 2018. Tebal Buku : 235 Halaman
Ubur-Ubur Lembur adalah buku komedi Raditya Dika. Bercerita tentang pengalamannya belajar hidup dari apa yang dia cintai, sambil menemukan hal remeh untuk ditertawakan di sepanjang perjalanan. Seluruh bab diangkat dari kisah nyata. Ubur-Ubur lembur merupakan salah satu novel terlaris. Raditya Dika menulis novel ini dan menerbitkannya pada tahun 2018 oleh Gagas Media.
1.
Dua Orang Yang Berubah
Novel ini menceritakan tentang perjalan
hidup seorang Raditya Dika. Ia merupakan penulis yang mempunyai banyak fans
termasuk Sally pacar Adri. Adri adalah tetangga bang Radit, dia adalah karyawan
di sebuah perusahaan telekomunikasi. Ia sangat jago segala hal berbau komputer.
Ia mempunyai pacar yang bernama Sally yang termasuk fans dari bang Radit. Sally
dan Adri putus karena mereka memiliki kepribadian yang tidak cocok, kata bang
Radit.
2.
Pada Sebuah Kebun Binatang
Chapter
ini menceritakan tentang Bang Radit yang mencintai Naya, teman SMA nya. Akan
tetapi Naya hanya menganggap bang Radit adalah sahabatnya , sehingga bang Radit
mengikhlaskan cintanya.
3.
Mata Ketemu Mata
Bang Radit yang selalu menghindari pacar mantannya yang biasa di panggil dengan Ben yang sedang berkumpul dengan teman-temannya di restoran. Ia malu dan selalu menghindari Ben dan akhirnya bertemu di depan toilet.
4.
Balada Minta Foto
Menceritakan tentang bang Radit yang
sedang menulis di sebuah cafe di Kemang Village, Jakarta Selatan. Dan tiba-tiba
ia melihat dua sosok perempuan sekolahan sekitar umur enam belas tahun sedang
melihat kearah bang Radit. Rasa kepedean dari dalam diri bang radit pun keluar
dan menawari dua sosok perempuan itu untuk berfoto, dan tentu ditolak oleh dua
sosok perempuan itu dan ternyata dua perempuan itu menunjuk ke meja di sebelah
bang Radit yang ternyata mereka akan bertemu dengan guru mereka.
5.
Raja Di Sekolah
Chapter ini menceritakan tentang teman
dari bang Radit yang bernama Raja. Raja teman bang Radit sangat jago Taekwondo.
Raja menggunakan kemampuannya bukan untuk hal kebaikan, dia suka menindas dan
membully orang-orang.
6.
Di Bawah Mendung Yang Sama
Kisah bang Radit yang sedang bermain
hujan dan bertemu dengan laki-laki asal India yang bernama Kathu yang sedang
kehujanan di luar rumah. Karena rasa kasihan bang Radit kepada Kathu, bang
Radit menawari Kathu untuk masuk ke rumahnya, dan akhirnya mereka berteman.
7.
Rumah Yang Terlewat
Chapter ini menceritakan tentang bang Radit yang dulu
tinggal di negara Jepang selama setahun, bang Radit ikut ke Jepang bersama
ibunya yang kuliah S2 di kota Mito, prefektur Ibaraki.
8.
Tempat Shooting Horor
Tentang ketakutan bang Radit terhadap hantu
yang mulanya tidak percaya terhadap hantu dan bang Radit diundang ke tempat
shooting yang berhantu.
9. Ubur-ubur
Lembur
Chapter ini, menceritakan perjalanan Radit yang bingung mau
jadi apa. Saat itu Radit mempunyai blog di internet dan suka menulis
kesehariannya di blog tersebut. Ia ingin menjadi penulis tetapi ia tidak punya
uang, sehingga ia menyerah. Namun pada saat itu Ayahnya memberikan motivasi
sehingga ia mulai bangkit dan bisa menjadi penulis seperti sekarang ini.
Nah, begitulah ceritanya.
Buku ini berisi tentang cerita yang menghibur, mulai dari
pengalaman Radit untuk belajar hidup dari apa yang dia cintai sampai ia
menemukan hal remeh dalam perjalanannya. Buku ini cukup menarik untuk dibaca
karena seluruh bab di dalamnya diangkat dari kisah nyata. Cover bukunya pun
sudah kekinian dan kertas yang digunakan pun bagus. Buku ini layak dibaca oleh
kalangan remaja mulai dari anak SMP ke atas. Harganya pun cukup terjangkau.
Sayangnya, bahasa yang digunakan kurang membantu perkembangan bahasa Indonesia yang baik. Terdapat beberapa bahasa yang tidak pantut dicontoh oleh anak anak. (Ines Novelia Putri/VIII J)
Blog Cemerlang menerima pengiriman naskah dari semua pihak, baik siswa, guru, maupun orang lain.
Bagaimana caranya?
Untuk pengiriman naskah dikirim ke Tim Redaksi Cemerlang melalui email eskaducemerlang@gmail.com dengan subyek NamaRubrik_NAMAPENGIRIM. Isi email berupa naskah karangan beserta foto terkait.
Apa saja naskah yang kami terima?
Naskah yang kami terima diantaranya adalah sastra(cerpen, puisi, pantun, kisah inspiratif, crita tegalan, dll), kreativitas siswa, tips, suara siswa(khusus siswa SMP Negeri 2 Kramat), kearifan lokal, IPTEK(sains), dan resensi buku.
Ada seorang anak, sebut saja namanya si Rizky. Dia anak yang pandai. Berbagai macam perlombaan telah dijuarainya. Banyak siswa yang iri pada prestasinya.
Suatu ketika, sekolah tempat dia
belajar, menuntut siswanya untuk mempelajari tentang cara menggunakan aplikasi
pembelajaran pada ponsel berbasis android. Sehingga menganjurkan siswanya untuk
membawa ponsel ke sekolah.
Dari sekian banyaknya siswa, ada berapa anak yang tidak dapat membawa ponsel ke sekolah. Salah satunya Rizky. Pada saat guru menerangkan pembelajaran literasi di aplikasi yang mempunyai format PDF, Rizky hanya terdiam dan murung. Guru pun menyuruh kelompok lain untuk membantu Rizky. Dia sangat serius memperhatikan teman-temannya dari mulai membuka aplikasi melalui link yang dibagikan di grup Whats App, memperhatikan setiap halaman yang di scroll setiap mereka selesai membaca. Hingga menutup kembali aplikasi itu. Hanya dengan melakukan itu dia sudah bisa memahami semuanya.
Namun, teman-teman yang iri
padanya menghasut teman-teman yang lain dengan mengatakan Rizky hanya
berpura-pura tidak mempunyai ponsel. Dikarenakan kejadian itu, Rizky menuntut orang tuanya yang sebenarnya
memiliki perekonomian dibawah rata-rata untuk membelikannya ponsel android
seperti teman-temannya. Karena rasa sayang yang terlalu pada sang anak,
akhirnya orang tua Rizky pun membelikan
ponsel android yang baru.
Namun, saat Rizky mempunyai
ponsel android itu, di sekolah tidak menggunakan pembelajaran literasi berbasis
digital lagi, akhirnya Rizky pun tertuju pada media sosial yang sedang terkenal.
Beberapa hari setelah kejadian itu, sikap Rizky menjadi berubah. Prestasinya menjadi menurun dengan drastis dan dia menjadi sombong dengan merendahkan orang lain. Rizky juga membalikkan perilaku teman-temannya yang dulu Rizky alami dengan lebih parah.
HP (Google)
Akhirnya teman-temannya mulai
sadar bahwa perubahan perilaku Rizky itu karena perilaku buruk mereka. Sehingga
mereka memutuskan untuk mengurangi aktifitas daring (online), kecuali dalam hal
tertentu. Hingga akhirnya Rizky menyesal dan kembali berubah seperti sebelum
dia mengenal aktifitas daring. Rizky pun mulai semangat lagi meningkatkan
prestasinya.
Dari cerita ini dapat
diambil pelajarannya bahwa penggunaan daring harus dengan bijak. Segala sesuatu
yang terlalu dipaksakan apalagi jika menyangkut orang tua itu akan berakhir
tidak baik.
Di pagi
hari yang cerah ini, Ana dan Santi berjalan-jalan di lingkungan rumah.
Mereka akan mengerjakan tugas besama-sama.Ana dan Santi
mengerjakan tugas Browsing di Internet.
Ana dan Santi bingung karena
mereka tidak mempunyai HP atau internet apapun. “Aduh…bagaimana
ini,kita harus mengerjakan tugas ini dengan menggunakan internet.
Kita kan tidak punya HP.”
Kata Ana. “Aku juga tidak tahu.” Ujar Santi.
Ketika berjalan-jalan sambil memikirkan tugas, tiba-tiba ada Dista lewat. “Dista…!Sini.” Teriak Ana. “Ada apa Ana?” jawab Dista. “Kamu sudah mengerjakan tugas dari bu guru?” tanya Ana. “Belum. Aku juga sedang memikirkan bagaimana cara mengerjakan tugas itu. Aku kan tidak punya HP.” Jawab Dista. “Bagaimana kalau kita mengerjakannya bersama-sama Dista.” Ujar Santi. “Ya, boleh. Tapi bagaimana caranya?” Tanya Dista. Mereka terdiam sejenak. Tiba-tiba Santi memunculkan ide. “Ya aku tahu, bagaimana kalau kita pergi ke Warnet yang ada di Gang Mangga itu.” Ujar Santi dengan wajah gembira. “Ya ide bagus! Ayo kita kesana!” Ajak Dista.
Mereka bertiga berjalan menuju warnet. Sesampainya di situ, ternyata warnet itu tutup. Mereka bertiga bingung, seketika ada ibu ibu yang lewat.’’PermisiBu,boleh saya bertanya? Biasanya warnet ini buka jam berapa ya bu?’’ Tanya Dista.”Ohh…Warnet ini biasanya buka jam tiga siangdek.”jawab ibu itu.”Terima kasih bu atas informasinya.” Jawab Dista. Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pulang dan berkumpul lagi jam tiga siang nanti.
Waktu telah menunjukkan jam tiga siang mereka berkumpul kembali di
warnet itu. “Ayo
kita masuk!” ajak Ana. Mereka bertiga masuk dan mulai mengerjakan
tugasnya. Beberapa menit kemudian mereka mulai bosan dengan tugas
yang sangat banyak itu. Padahal mereka baru mengerjakan setengah dari tugas
mereka. “Ahh…bosan
deh.Bagaimana kalau kita main gamedulu.”kata Dista. “Ya
ide yang
bagus itu.Ayo kita main permainan sebentar, baru ngerjain tugas.” kata Santi. “Ya
benar.” serentak Ana dan Dista.
Anak perempuan sedang bermain komputer (Google)
Mereka bermain sampai
menjelang sore. Sampai mereka lupa dengan tugas mereka.”Dek…sudah
waktunya warnet tutup.”kata pemilik warnet. Mereka bertiga kaget sekaligus
bingung. “Hahh…apa ini udah sore?”kata Ana dengan bingung.”Sudah dek,ini sudah jam lima
sore udah waktunyawarnet tutup.’’ujar pemilik warnet.
Mereka bertigapun beranjak
pulang dengan bingung karena tugas mereka belum selesai. Ketika di perjalanan
pulang mereka kebingungan. “Bagaimana ini,kita belum
mengerjakan tugas,bisa- bisa kita akan dimarahi bu guru “kata Dista dengan wajah lesu. “Iya,ini
gara-gara kita kelamaan bermain game.” Jawab Dista dengan menyesal.
Keesokan harinya bu guru
masuk ke kelas seperti biasa. Ketika bu guru menyuruh tugas untuk
dikumpulkan,murid-murid langsung mengumpulkan tugasnya dengan cepat kecuali
Ana,Santi,dan Dista. “Siapa
yang belum mengerjakan tugas?
Ayo maju ke depan!” Kata bu guru. Ana, Santi, dan Dista maju ke depan dengan rasa malu dan menyesal. “Kenapa kalian tidak mengerjakan
tugas!” Kata
bu guru dengan tegas. “Kami tadinya ingin mengerjakan
tugas bersama-sama di warnet, tapi kami malah bermain game sampai sore.” Jawab Santi. “Sekarang
bu guru hukum kalian lari tiga kali memutari lapangan.” Suruh bu guru. Mereka tercengang kaget. Tapi mereka harus
bagaimana lagi, mereka harus melaksanakan perintah dari bu guru.
Setelah melaksanakan
hukuman itu, mereka kembali masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran seperti biasa. Ketika
pelajaran, bu guru memberi tugas untuk mencari berita terbaru di Internet. Bu guru
menyuruh untuk mengerjakan secara berkelompok dan setiap kelompok jumlahnya
tiga orang. Bu guru mengingatkan agar tidak ada yang belum mengerjakan tugas
lagi.
Ana,
Sinta, dan Dista mereka bekerja kelompok bersama. Sekarang
mereka sudah sadar bahwa tugas itu harus segera dikerjakan,
tidak diselingi dengan bermain
game.
Keesokannya, bu guru
masuk ke kelas untuk mengajar. Ketika bu guru menyuruh tugasnya untuk
dikumpulkan, Ana, Santi, dan Dista mengumpulkannya dengan cepat. Mereka
bertiga senang dapat
menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Enyong arane Sinta. Nduwe batir arane Rina. Ndilalah umahe enyong karo Rina perek- perekan. Dadine angger mangkat sekolah bisa bareng numpak pit. Pite enyong warnane biru, angger pite Rina warnane abang. Pite Rina luwih apik daripada pite enyong.
Rina kue bocahe pinter, awit kelas siji SD nganti kelas papat dadi juara
kelas terus. Saliane pinter, Rina bocah sing apik, sopan, lan seneng mbantu
batir-batire dong ana pelajaran sing angel. Istilahe Rina bocah sing prigel lan
gampang batiran, dadine dheweke nduwe batir akeh.
Dina Minggu wingi, Rina ulang taun. Pas ulang taun, dheweke diparingi
hadiah bapak ibune. Jebule hadiahe handphone. Rina atine seneng nemen. Soale
Rina nembe pisan-pisane diparingi handphone wongtuane. Tujuan wongtuane maringi
handphone yaiku kanggo ngubungi wongtuane utawa maringi kabar dong wongtuane
lagi ana tugas ning luar kota, lan nggolet informasi penting dong olih tugas
sing bapak ibu guru.
Sawise nduwe handphone, Rina jarang dolan utawa metu umah. Soale dheweke asik dolanan handphone. Saliane kue, nilai ulangane Rina selot mene selot mudhun. Tapi dheweke ora rumangsa. Enyong melas nemen maring Rina lan wongtuane. Soale Rina durung sadar akibat keteledorane. Rina esih males sinau. Rumangsane dheweke esih pinter.
HP mempengaruhi anak (Google)
Minggu wingi neng sekolahan ana kegiatan Penilaian Akhir Semester. Enyong lan batir- batire pada sinau sing temenanan, lan mangkat les neng sekolahan. Sedurunge mangkat les, enyong ora klalen ngampiri Rina. “Rin, yuh sinau kelompok, kowen wis sue ora sinau, aja dolanan handphone bae. Kowen wis sering didukani buguru, gara-gara ora nggarap PR.” Rina diomongi ora nggugu, malah njawabe, “kalem Sin, mengko aku nilaine paling dhuwur.” Enyong keder, akhire Rina tak tinggal, “Ya wis Rin, kowen tah bocah pinter ora kaya enyong.”
Sawise maring umahe Rina, enyong langsung mangkat neng sekolahan. Neng sekolahan jebule, bocah-bocah wis pada kumpul. Enyong karo batir-batire langsung mlebu kelas. Soale les pan ditapuki. Barang mlebu kelas, enyong karo batir-batire kaget. Soale bu gurune ari nerangna nganggo LCD. Enyong karo batir-batire seneng nemen lan tambah semangat sinaune. Nggal dina enyong karo batir-batire sinau. Dadine dong njawab soal ora patia kangelan.
Dina kie, buguru mbagi nilai ulangan. Wongtua murid kelas papat pada rawuh neng sekolahan. Mamane enyong karo mamane Rina pinarak neng ngarep dhewek. Wong loro kue pada gujeng, katone seneng nemen. Ora sue buguru rawuh kalih ngasta hasil ulangane. Terus ngumumna juara-juara kelas. Alhamdulillah enyong olih peringkat siji. Kie berkat usahane enyong karo do’ane wongtua ora sia-sia. Tapi, enyong karo batir-batire heran. Soale laka namane Rina awit peringkat siji nganti sepuluh.
Sedurunge namane enyong didundang, namane Rina didudang dhisit. Dadine enyong bisa takon Rina peringkat pira. Tapi sawise nerima hasile, Rina metu sing kelas karo nangis. Mamane Rina pinarak karo netesna banyu mata. Weruh Rina nangis, enyong karo Dewi langsung ngoyok Rina. Enyong takon maring Rina, “Rin, kowen nangapa bisane nangis?” Tapi Rina ora njawab, dheweke nangis bae. Dewi melu-melu takon, “Rin, kowen nangis mesti ana masalah.” Tapi Rina njawabe, “Ora papa.”
“Ora mungkin ora papa, soale kowen metune karo nangis.” Jarene enyong karo nyekeli tangane Rina. Rina nyikep nyong, karo ngomong sesenggukan, “Sin, enyong ora munggah kelas, ibu dhuka. Saiki enyong isin nemen, enyong gela.”
Enyong heran, terus takon, “Sih, gela apa Rin?” Rina esih nangis bae.
Ora sue, Rina ngomong,“Kie akibat
enyong ora tau sinau, enyong dolanan handphone bae, diomongi kanca batir ya ora
nggugu, ibune aku ngendika ya aku ora nggugu.”
“Ya wis Rin, wis terjadi mulane kowen sinau sing sregep, enyong ya nduwe handphone tapi nganggo handphone seperlune bae. Gadikena kie nggo plajaran mbesuk maning ya.” Pesene enyong aring Rina.
“Enyong setuju karo pendapate bu guru, handphone akeh gunane contone, bisa nggo nggoleti informasi, nggo belajar, lan nggo nggoleti kata-kata sing angel nganggo kamus online.” Dewi melu-melu ngomong.
”Ya Rin enyong ya sering nganggo handphone nggo keperluan belejar. Menurut enyong omongane Dewi bener, soale enyong ya sering mbuka handphone, nyatane enyong ya rengking siji. Dadi aja nyalahna handphone. Menurute enyong handphone kue ibarat perpustakaan.” Jarene enyong setitik-setitik karo nasehati Rina. “Rin, intine kowen kue ora tau sinau dadine nilaine setitik.” Jarene si Dewi. “Terus aku kudu pimen kanca batir?” Rina mulai bisa ngomong.”Wis ngonong bae, masalah ora munggah kelas, bisa dadi pelajaran nggo kowen. Engko kapan-kapan belajar bareng maning, angger buguru ngendika gon nggawa handphone ya bisa nggo mbuka internet bareng.” Nasehate Dewi nggo Rina. “Kan enyong wis ora sekelas karo kowen,” jawabe Rina karo rai isin. “Oh iya yah Rin, nyong klalen.” Ora sue, acarane rampung. Mamane enyong karo mamane Rina metu sing kelas.Sawise metu, mamane enyong karo mamane Rina ngampiri enyong, Rina lan Dewi neng ngarep kelas. Rina langsung nyikep mamane karo ngomong campur nangis sesenggukan, “Ma, Rina nyuwun pengampurane, Rina gela ma.” Mamane njawab karo nangis. “Ya, wis tak maafna. Kie nggo pelajarane kowen ya, aja dolanan handphone bae.”
“Nggih ma, Rina janji pan nggunakna handphone seperlune karo pan nggo belajar.” Njawabe Rina, wis rada tenang. “Ya wis yuh balik, aja nangis bae Rin.”
”Nggih ma. Sin, Wi, enyong balik ndisit ya?”
“Ya Rin, ati-ati.” Jawabe enyong karo Dewi, “ya wis Sin, kowen ya balik oh yuh, wis awan.” Mamane Rina ngejak balik. ”Ngigh ma. Wi enyong balik ndisit ya?” Jawabe Rina. ”Ya Sin ati-ati.” Jawabe Dewi.
Akhire Rina sadar sing dilakoni dheweke kueh salah. Saiki Rina wis ora dolanan HP terus, sinaune tambah sregep maning sebabe ora pengin ngulangi kesalahane dong kaeh.