Kisah Inspiratif, Sastra

Tak Bijak Menggunakan Ponsel Berujung Penyesalan

Karya: Meylin Nurfadhilah

Ada seorang anak, sebut saja namanya si Rizky. Dia anak yang pandai. Berbagai macam perlombaan telah dijuarainya. Banyak siswa yang iri pada prestasinya.

             Suatu ketika, sekolah tempat dia belajar, menuntut siswanya untuk mempelajari tentang cara menggunakan aplikasi pembelajaran pada ponsel berbasis android. Sehingga menganjurkan siswanya untuk membawa ponsel ke sekolah.

               Dari sekian banyaknya siswa, ada berapa anak yang tidak dapat membawa ponsel ke sekolah. Salah satunya Rizky.  Pada saat guru menerangkan pembelajaran literasi di aplikasi yang mempunyai format  PDF, Rizky hanya terdiam dan murung. Guru pun menyuruh kelompok lain untuk membantu Rizky. Dia sangat serius memperhatikan teman-temannya dari mulai membuka aplikasi melalui link yang dibagikan di grup Whats App, memperhatikan setiap halaman yang di scroll setiap mereka selesai membaca. Hingga menutup kembali aplikasi itu. Hanya dengan melakukan itu dia sudah bisa memahami semuanya.

               Namun, teman-teman yang iri padanya menghasut teman-teman yang lain dengan mengatakan Rizky hanya berpura-pura tidak mempunyai ponsel. Dikarenakan kejadian itu,  Rizky menuntut orang tuanya yang sebenarnya memiliki perekonomian dibawah rata-rata untuk membelikannya ponsel android seperti teman-temannya. Karena rasa sayang yang terlalu pada sang anak, akhirnya  orang tua Rizky pun membelikan ponsel android yang baru.

                Namun, saat Rizky mempunyai ponsel android itu, di sekolah tidak menggunakan pembelajaran literasi berbasis digital lagi, akhirnya Rizky pun tertuju pada media sosial yang sedang terkenal.

                Beberapa hari setelah kejadian itu, sikap Rizky menjadi berubah. Prestasinya menjadi menurun dengan drastis dan dia menjadi sombong dengan merendahkan orang lain. Rizky juga membalikkan perilaku teman-temannya yang dulu Rizky alami dengan lebih parah.

Hasil gambar untuk hp Kartun
HP (Google)

                 Akhirnya teman-temannya mulai sadar bahwa perubahan perilaku Rizky itu karena perilaku buruk mereka. Sehingga mereka memutuskan untuk mengurangi aktifitas daring (online), kecuali dalam hal tertentu. Hingga akhirnya Rizky menyesal dan kembali berubah seperti sebelum dia mengenal aktifitas daring. Rizky pun mulai semangat lagi meningkatkan prestasinya.

                   Dari cerita ini dapat diambil pelajarannya bahwa penggunaan daring harus dengan bijak. Segala sesuatu yang terlalu dipaksakan apalagi jika menyangkut orang tua itu akan berakhir tidak baik.

               `

Cerpen, Sastra

Dihukum Karena Lalai

Karya: Al-Fath Khabiburahma

         Di pagi  hari yang cerah ini, Ana dan Santi berjalan-jalan di lingkungan rumah. Mereka akan mengerjakan tugas besama-sama.Ana dan Santi mengerjakan tugas Browsing di Internet.

         Ana dan Santi bingung karena mereka tidak mempunyai HP atau internet apapun. Aduh… bagaimana ini, kita harus mengerjakan tugas ini dengan menggunakan internet. Kita kan tidak punya HP. Kata Ana. Aku juga tidak tahu. Ujar Santi.

        Ketika berjalan-jalan sambil memikirkan tugas, tiba-tiba ada Dista lewat. “Dista…!Sini.” Teriak Ana. “Ada apa Ana?” jawab Dista. “Kamu sudah mengerjakan tugas dari bu guru?” tanya Ana. “Belum. Aku juga sedang memikirkan bagaimana cara mengerjakan tugas itu. Aku kan tidak punya HP.” Jawab Dista. “Bagaimana kalau kita mengerjakannya bersama-sama Dista.” Ujar Santi. “Ya, boleh. Tapi bagaimana caranya?” Tanya Dista. Mereka terdiam sejenak. Tiba-tiba Santi memunculkan ide. “Ya aku tahu, bagaimana kalau kita pergi ke Warnet yang ada di Gang Mangga itu.” Ujar  Santi dengan wajah gembira. “Ya ide bagus! Ayo kita kesana!” Ajak Dista.

        Mereka bertiga berjalan menuju warnet. Sesampainya di situ, ternyata warnet itu tutup. Mereka bertiga bingung, seketika ada ibu ibu yang lewat.’’Permisi Bu,boleh saya bertanya? Biasanya warnet ini buka jam berapa ya bu?’’ Tanya Dista.”Ohh…Warnet ini biasanya buka jam tiga siang dek.”jawab ibu itu.”Terima kasih bu atas informasinya.” Jawab Dista. Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pulang dan berkumpul lagi jam tiga siang nanti.

          Waktu telah menunjukkan jam tiga siang mereka berkumpul kembali di warnet itu. “Ayo kita masuk!” ajak Ana. Mereka bertiga masuk dan mulai mengerjakan tugasnya. Beberapa menit kemudian mereka mulai bosan dengan tugas yang sangat banyak itu. Padahal mereka baru mengerjakan setengah dari tugas mereka. “Ahh…bosan deh.Bagaimana kalau kita main game dulu.”kata Dista. Ya ide yang bagus itu. Ayo kita main permainan sebentar, baru ngerjain tugas. kata Santi. “Ya benar.” serentak Ana dan Dista.

Anak perempuan sedang bermain komputer (Google)

         Mereka bermain sampai menjelang sore. Sampai mereka lupa dengan tugas mereka.”Dek…sudah waktunya warnet tutup.”kata pemilik warnet. Mereka bertiga kaget sekaligus bingung. “Hahh…apa ini udah sore?”kata Ana dengan bingung.”Sudah dek,ini sudah jam lima sore udah waktunya warnet tutup.’’ujar pemilik warnet.

         Mereka bertigapun beranjak pulang dengan bingung karena tugas mereka belum selesai. Ketika di perjalanan pulang mereka kebingungan. Bagaimana ini,kita belum mengerjakan tugas,bisa- bisa kita akan dimarahi bu guru “kata Dista dengan wajah lesu. “Iya,ini gara-gara kita kelamaan bermain game.” Jawab Dista dengan menyesal.

            Keesokan harinya bu guru masuk ke kelas seperti biasa. Ketika bu guru menyuruh tugas untuk dikumpulkan,murid-murid langsung mengumpulkan tugasnya dengan cepat kecuali Ana,Santi,dan Dista. Siapa yang belum mengerjakan tugas? Ayo maju ke depan!” Kata bu guru. Ana, Santi, dan Dista maju ke depan dengan rasa malu dan menyesal. Kenapa kalian tidak mengerjakan tugas!” Kata bu guru dengan tegas. “Kami tadinya ingin mengerjakan tugas bersama-sama di warnet, tapi kami malah bermain game sampai sore.” Jawab Santi. “Sekarang bu guru hukum kalian lari tiga kali memutari lapangan.Suruh bu guru. Mereka tercengang kaget. Tapi mereka harus bagaimana lagi, mereka harus melaksanakan perintah dari bu guru.

            Setelah melaksanakan hukuman itu, mereka kembali masuk ke kelas untuk  mengikuti pelajaran seperti biasa. Ketika pelajaran, bu guru memberi tugas untuk mencari berita terbaru di Internet. Bu guru menyuruh untuk mengerjakan secara berkelompok dan setiap kelompok jumlahnya tiga orang. Bu guru mengingatkan agar tidak ada yang belum mengerjakan tugas lagi.

             Ana, Sinta, dan Dista mereka bekerja kelompok bersama. Sekarang mereka sudah sadar bahwa tugas itu harus segera dikerjakan, tidak diselingi dengan bermain game.

             Keesokannya, bu guru masuk ke kelas untuk mengajar. Ketika bu guru menyuruh tugasnya untuk dikumpulkan, Ana, Santi, dan Dista mengumpulkannya dengan cepat. Mereka bertiga senang dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.                                     

Crita Tegalan, Sastra

Gara-Gara HP

Karya: Adinda Tria Monika

Enyong arane Sinta. Nduwe batir arane Rina. Ndilalah umahe enyong karo Rina perek- perekan. Dadine angger mangkat sekolah bisa bareng numpak pit. Pite enyong warnane biru, angger pite Rina warnane abang. Pite Rina luwih apik daripada pite enyong.

Rina kue bocahe pinter, awit kelas siji SD nganti kelas papat dadi juara kelas terus. Saliane pinter, Rina bocah sing apik, sopan, lan seneng mbantu batir-batire dong ana pelajaran sing angel. Istilahe Rina bocah sing prigel lan gampang batiran, dadine dheweke nduwe batir akeh.

Dina Minggu wingi, Rina ulang taun. Pas ulang taun, dheweke diparingi hadiah bapak ibune. Jebule hadiahe handphone. Rina atine seneng nemen. Soale Rina nembe pisan-pisane diparingi handphone wongtuane. Tujuan wongtuane maringi handphone yaiku kanggo ngubungi wongtuane utawa maringi kabar dong wongtuane lagi ana tugas ning luar kota, lan nggolet informasi penting dong olih tugas sing bapak ibu guru.

Sawise nduwe handphone, Rina jarang dolan utawa metu umah. Soale dheweke asik dolanan handphone. Saliane kue, nilai ulangane Rina selot mene selot mudhun. Tapi dheweke ora rumangsa. Enyong melas nemen maring Rina lan wongtuane. Soale Rina durung sadar akibat keteledorane. Rina esih males sinau. Rumangsane dheweke esih pinter.

Hasil gambar untuk anak main hp kartun
HP mempengaruhi anak (Google)

Minggu wingi neng sekolahan ana kegiatan Penilaian Akhir Semester. Enyong lan batir- batire pada sinau sing temenanan, lan mangkat les neng sekolahan. Sedurunge mangkat les, enyong ora klalen ngampiri Rina. “Rin, yuh sinau kelompok, kowen wis sue ora sinau, aja dolanan handphone bae. Kowen wis sering didukani buguru, gara-gara ora nggarap PR.” Rina diomongi ora nggugu, malah njawabe, “kalem Sin, mengko aku nilaine paling dhuwur.” Enyong keder, akhire Rina tak tinggal, “Ya wis Rin, kowen tah bocah pinter ora kaya enyong.”

 Sawise maring umahe Rina, enyong langsung mangkat neng sekolahan. Neng sekolahan jebule, bocah-bocah wis pada kumpul. Enyong karo batir-batire langsung mlebu kelas. Soale les pan ditapuki. Barang mlebu kelas, enyong karo batir-batire kaget. Soale bu gurune ari nerangna  nganggo LCD. Enyong karo batir-batire seneng nemen lan tambah semangat sinaune. Nggal dina enyong karo batir-batire sinau. Dadine dong njawab soal ora patia kangelan.

Dina kie, buguru mbagi nilai ulangan. Wongtua murid kelas papat pada rawuh neng sekolahan. Mamane enyong karo mamane Rina pinarak neng ngarep dhewek. Wong loro kue pada gujeng, katone seneng nemen. Ora sue buguru rawuh kalih ngasta hasil ulangane. Terus ngumumna juara-juara kelas. Alhamdulillah enyong olih peringkat siji. Kie berkat usahane enyong karo do’ane wongtua ora sia-sia. Tapi, enyong karo batir-batire heran. Soale laka namane Rina awit peringkat siji nganti sepuluh.

Sedurunge namane enyong didundang, namane Rina didudang dhisit. Dadine enyong bisa takon Rina peringkat pira. Tapi sawise nerima hasile, Rina metu sing kelas karo nangis. Mamane Rina pinarak karo netesna banyu mata. Weruh Rina nangis, enyong karo Dewi langsung ngoyok Rina. Enyong takon maring Rina, “Rin, kowen nangapa bisane nangis?” Tapi Rina ora njawab, dheweke nangis bae. Dewi melu-melu takon, “Rin, kowen nangis mesti ana masalah.” Tapi Rina njawabe, “Ora papa.”

“Ora mungkin ora papa, soale kowen metune karo nangis.” Jarene enyong karo nyekeli tangane Rina. Rina nyikep nyong, karo ngomong sesenggukan, “Sin, enyong ora munggah kelas, ibu dhuka. Saiki enyong isin nemen, enyong gela.”

Enyong heran, terus takon, “Sih, gela apa Rin?” Rina esih nangis bae.

Ora sue, Rina ngomong,“Kie akibat enyong ora tau sinau, enyong dolanan handphone bae, diomongi kanca batir ya ora nggugu, ibune aku ngendika ya aku ora nggugu.”

“Ya wis Rin, wis terjadi mulane kowen sinau sing sregep, enyong ya nduwe handphone tapi nganggo handphone seperlune bae. Gadikena kie nggo plajaran mbesuk maning ya.” Pesene enyong aring Rina.

“Enyong setuju karo pendapate bu guru, handphone akeh gunane contone, bisa nggo nggoleti informasi, nggo belajar, lan nggo nggoleti kata-kata sing angel nganggo kamus online.” Dewi melu-melu ngomong.

”Ya Rin enyong ya sering nganggo handphone nggo keperluan belejar. Menurut enyong omongane Dewi bener, soale enyong ya sering mbuka handphone, nyatane enyong ya rengking siji. Dadi aja nyalahna handphone. Menurute enyong handphone kue ibarat perpustakaan.” Jarene enyong setitik-setitik karo nasehati Rina. “Rin, intine kowen kue ora tau sinau dadine nilaine setitik.” Jarene si Dewi. “Terus aku kudu pimen kanca batir?” Rina mulai bisa ngomong.”Wis ngonong bae, masalah ora munggah kelas, bisa dadi pelajaran nggo kowen. Engko kapan-kapan belajar bareng maning, angger buguru ngendika gon nggawa handphone ya bisa nggo mbuka internet bareng.” Nasehate Dewi nggo Rina. “Kan enyong wis ora sekelas karo kowen,” jawabe Rina karo rai isin. “Oh iya yah Rin, nyong klalen.” Ora sue, acarane rampung. Mamane enyong karo mamane Rina metu sing kelas.Sawise metu, mamane enyong karo mamane Rina ngampiri enyong, Rina lan Dewi neng ngarep kelas. Rina langsung nyikep mamane karo ngomong campur nangis sesenggukan, “Ma, Rina nyuwun pengampurane, Rina gela ma.” Mamane njawab karo nangis. “Ya, wis tak maafna. Kie nggo pelajarane kowen ya, aja dolanan handphone bae.”

“Nggih ma, Rina janji pan nggunakna handphone seperlune karo pan nggo belajar.” Njawabe Rina, wis rada tenang. “Ya wis yuh balik, aja nangis bae Rin.”

”Nggih ma. Sin, Wi, enyong balik ndisit ya?

“Ya Rin, ati-ati.” Jawabe enyong karo Dewi, “ya wis Sin, kowen ya balik oh yuh, wis awan.” Mamane Rina ngejak balik.  ”Ngigh ma. Wi enyong balik ndisit ya?” Jawabe Rina. ”Ya Sin ati-ati.” Jawabe Dewi.

Akhire Rina sadar sing dilakoni dheweke kueh salah. Saiki Rina wis ora dolanan HP terus, sinaune tambah sregep maning sebabe ora pengin ngulangi kesalahane dong kaeh.